Thursday, December 22, 2016

THOUGHTS ON: SOCIETY AND SPECTACLE

My adsense doesn't work, alright.

Anyway

Baru-baru ini ada satu hal yang mengganggu gue ketika buka instagram, twitter, dan platform sosial media lainnya: betapa mudahnya sebuah hal menjadi viral sekarang ini. Tapi sebelum itu, apa sih viral itu? Ada yang tau? Right, gue googling dulu hehehe

Alright, so menurut kamus yang kemudian gue pahami viral itu mirip sama wabah. Begonya ya dari nama aja, Viral and Virus they both spread. Then menurut kamus, viral adalah hal yang berhubungan dengan gambar atau video, biasanya berisi informasi, yang beredar secara cepat dan luas dari satu pengguna internet ke pengguna internet lainnya. Nah sampe sini udah paham ya.. Good.

Kenapa gue terganggu? Well mainly because a lot of it were just fun. Without any benefit or impact whatsoevah to everyone watching it. Gue menjadi sedikit purist disini, karena gue ngerasa media harusnya punya efek yang besar dan efek tersebut adalah untuk mendidik masyarakat atau seenggaknya memberikan manfaat bagi penikmatnya. Sekarang dari beberapa hal yang viral selain commercial success apa lagi coba efeknya? Fame. Yes.

Dulu sempet trending kalimat "stop making stupid people famous" dan kalo gue ngga salah ini rame di Indonesia ketika beberapa orang bodoh yang mendadak terkenal di sosial media (gue ngga mau nyebut siapa orangnya terserah kalian mau bilang siapa gue masih takut sama pasal pencemaran nama baik oke thank you) dan banyak orang yang marah. Dan gue setuju sama kalimat itu cuma sekarang mungkin bergeser sih jadi "stop making stupid things people did become famous."

Fame, popularitas, itu sekarang semacam main goals dari beberapa pengguna Internet sekarang. Macem-macem deh yang dilakuin, mulai dari motret speedometer sampe bikin video klakson bus, semua buat popularitas. Gue ngga paham disini, kenapa hal bodoh kayak gini bisa laku? Apakah orang sini kurang hiburan? Atau kurang kegiatan? Atau sekedar kaget dengan hal-hal baru? Menarik kan?

Gue bahas satu kasus deh, tau video "om telolet om"? Lagi viral beberapa hari terakhir, sebetulnya kalo kalian nyimak dan inget hal ini udah rame selama beberapa bulan terakhir. Nah ada yang aneh disini, orang-orang diluar Indonesia juga ikutan rame. Kok bisa ya?

Menurut gue, yang mungkin sok tahu (which some of you will agree) penyebabnya adalah karena mereka mau dapet exposure disini. Dengan mereka ikutan posting atau bahkan bikin statement tentang itu, orang Indonesia bakalan exposed trus jadi tau dia siapa trus seneng sama itu orang trus bakalan jadi fans deh. Simple. Endingnya? Profit.

Gue sempet liat tweet dari salah satu artist (bukan selebriti, tolong bedakan) mengenai fenomena ini. Dia mengkritik society yang sekarang cenderung ignorant dan mengikuti trend yang ada (well, at least gue nangkepnya gitu) dan dia terganggu dengan komentar orang di postingannya yang isinya mayoritas seragam: minta klakson. Nah, sebelum gue nemu ini gue liat postingan di instagram tentang beberapa artist dan perusahaan luar negeri ikutan posting klakson dan dari yang gue liat, orang Indonesia bangganya ngga ketulungan. Nah si artist yang di twitter itu sempet menyiratkan kalo masyarakat sangat ignorant sampe ngga ngeliat sisi negatif klakson itu, ditambah ada artist luar yang mau bikin lagu dengan judul suara klakson itu. Makin buta lah mereka.

Kenapa tadi gue bilang ending dari orang luar ikutan bahas klakson adalah profit? Gini lho, mereka tahu kok Indonesia adalah pasar terbesar mereka. Contohnya dua deh, Sepak Bola dan EDM. Yup, dua hal tadi punya pasar yang gede disini. Sepak bola ngga usah ditanya lah ya, fanbase dimana-mana dan beberapa klub setau gue fanbase terbesarnya malah di Indonesia. Kalo EDM lagi marak beberapa tahun terakhir dan peminatnya naik terus, dari analisis asal yang gue lakuin statement gue barusan terbukti dengan beberapa pentas seni di sekitar gue tinggal sekarang memakai format "Party" atau "Festifity" dengan DJ sebagai main attraction. Nah dengan mereka ikutan posting tentang klakson, orang sini bakalan seneng tuh nah kalo udah seneng mereka lama-lama bakalan jadi penggemar. Trus profit dari mana? Kalo sepak bola jelas dari hak siar dan merchandise (walaupun banyak yang kw) dan musisi pasti dari tiket konser dan download musik via platform resmi (walaupun masih banyak yang download ilegal), masyarakat pasti mau ngeluarin effort buat mereka karena udah tertanam di benak masyarakat sini kalo mereka itu suka banget sama Indonesia. Ngga tau deh suka beneran apa friendzone (uopoh~).

Jadi aneh aja menurut gue. Orang sini yang rame tapi kok orang sana yang nyoba nyari keuntungan dan orang sini manut aja jadi domba. Bener juga kata si artist di twitter itu, kalo kita punya kemampuan untuk membuat suatu hal jadi viral kenapa yang dijadiin viral ngga hal-hal yang kritis sekarang macam kasus korupsi atau kasus-kasus yang ngga keangkat sama media. Menurut gue bakalan bermanfaat banget sih kalo gitu caranya.

Orang Indonesia seneng banget jadi penonton dan penikmat, ada trend dikit diikutin dan dinikmatin. Jadinya ya society of spectacle, masyarakat penikmat tontonan. Mentok jadi komentator. Dan gue ngga paham esensi dari hal-hal yang viral akhir-akhir ini, lempar botol lah, lomba nahan ketawa, kuat-kuatan makan pedes, ngerekam klakson bus, kebut-kebutan dijalan, motret speedometer, I mean like ini tuh fungsinya apa selain have fun? Dan apakah cara kayak gitu satu-satunya cara buat have fun?

Ada banyak sih kasus yang bisa dibahas sebetulnya, yang menunjukkan kalo masyarakat sekarang, like it or not, mulai ignorant dan hal-hal yang viral adalah hal-hal yang pure for fun and fame yang membuat kita kadang cuma jadi rantai terakhir. Konsumen, penonton, penikmat.

No comments:

Post a Comment