Saturday, April 18, 2015

When ?

Semarang - Sabtu (18/4)
A bright, calm, well overall, a good good Saturday
I am laying down in my bed, thinking about a lot of things
If you really know me, that wouldn't be strange. Since I like to do that anywhere anytime.
But today, it's quite strange. I often think about the future, I mean about the time when I am a man with two foot and one brain.
Dari semua yang gue pikirin intinya satu: kapan?
Kapan pikiran-pikiran gue bakalan kejawab?
Harus menunggu itu untuk datang dengan sukarela dan seolah-olah penuh pencerahan layaknya wahyu?
Atau harus mengejar layaknya protagonis di film laga?

Sometimes, I would wait rather than chasing it. Toh kalau dikejar juga belom tentu dapat dan sebanding dengan tenaga kamu mengejar itu bukan? Tapi menunggu juga menyita waktu, jadi?

"Akan jadi apa aku nanti setelah lulus kuliah?" 
Pertanyaan itu merupakan salah satu pertanyaan yang bermain-main di pikiran saya. Sekarang saya mahasiswa yang satu semester lagi akan di-cap sebagai "beban kampus dan orang tua" dan sebentar lagi akan ditanya mengenai skripsi, lulus, jodoh, dan pekerjaan. Untuk pekerjaan, saya bisa menjawabnya dengan profesi yang saat ini sedang saya jalani, menjual barang antik.

Bukan, saya tidak mau menyebut barang bekas. Stigmanya terlalu buruk, tidak baik untuk cara pikir saya dan orang lain. Saya menganggapnya antik, tidak banyak yang memiliki, atau dengan kalimat orang "gedongan", eksklusif.

Ya paling mereka cuma bisa bilang "ngapain kamu jualan kayak gitu? Emang ada yang mau beli? Duit jangan dibuang untuk hal yang ngga penting seperti ini". Ah, persetan dengan itu semua. Aku menyukai hal ini, aku suka barang antik, apa itu merugikanmu? Tidak kan.

Aku memulai ini karena aku suka hal-hal tentang sejarah, kan kalau barangnya belum laku bisa aku nikmati sendiri hehehe

Untuk urusan kampus aku menyerah, sepertinya aku akan menjadi salah satu pejuang di kampus. Ya, aku memang terlalu sibuk dengan urusan diluar kampus, organisasi. Tentu organisasi yang sehat. Aku masih punya akal sehat.

Kata salah satu saudaraku kira-kira begini, "Tidak apa-apa lulus sedikit telat, asal pergaulan luas dan memiliki channel kemana-mana. Itu yang membantu kelangsungan hidup kamu setelah lulus nanti". Sedap.

Kembali ke pertanyaan seputar setelah kuliah. Jadi apa ya? Aku masih punya dua cita-cita besar setelah lulus nanti: jadi fotografer, atau dosen. Fotografer sudah menjadi cita-cita sejak dulu, itu karena aku tidak pandai betul dalam hal menulis berita. Aku mengandalkan mata dan rasa untuk menghasilkan cerita melalui kameraku. Dosen, ya itu karena aku penasaran saja. Eyangku dulu seorang dosen, makanya aku tertarik.

Pertanyaan tentang jodoh menurutku pertanyaan paling klise dan membingungkan, dijawab salah, tidak dijawab nanti malu. Ah sudahlah, biar Tuhan yang menjawab, toh aku sudah berusaha. Curhat dengan-Nya sudah cukup bagiku, solusi datang belakangan tidak masalah buatku.

Hidup memang penuh misteri ya. Seperti buku yang baru dibeli, entah itu buku bekas yang mungkin sudah usang namun masih berharga atau yg baru. Penuh pertanyaan akan masa depan yang diawali dan diakhiri dengan pertanyaan yang sama. Kapan?


Tempat bernaung dan yang menaungi - iPhone 4


Wednesday, March 25, 2015

Lead The Way



What makes you a leader?
Is it your age?
Or your position at work?
Or is it the amount of money you have?
Or your knowledge?

Now, what makes you a good human being?
Is it your act of kindness?
Or it is your duty to do so?
Or because you feel it?
Or maybe, because others said so?

You see, I've had enough of this
We are all the same, human being
We shouldn't treat a person differently
What? Because they're poor? They work for you? They are below you, on social status or anything else, they are belo you? Really?

Alright, they work for you and you paid them.. And so what? You can live your easy life, it is because of them.

Consider yourself as a human please

Wednesday, November 5, 2014

That Doesn't Matter

"Kalo aku miskin, kamu masih mau temenan sama aku ngga?"

Kira-kira begitu katanya, itu sepenggal percakapan aku dengan seseorang. Dulu.

Hal itu membuat aku berfikir, is it that important if you have a friend that's so fucking rich and wealthy or poor as hell?

Dan waktu itu aku menjawab kira-kira begini:
"Hahaha.. Aku ngga peduli kamu mau kaya, miskin, anak presiden, atau orang biasa. Siapapun kamu, aku tetep jadi temen kamu"

Dan baru-baru ini, it got me thinking

It doesn't matter for me if you're rich, poor, fat, skinny, good looking, damn ugly, fair skin, dark skin.. Whatever you are, you are my friend. I wan't to make friend with you, not your car, money, skin care, or any of that.

Pertemanan mengajarkan kita untuk tidak pamrih, dan bijak.

Hell, even I admit it that I can't live without having one.

Dan komponen yang paling penting adalah: respect. I have a word about that "I don't care who the fuck you are, if you don't and won't respect me. I will do the exact same thing to you"

So, be grateful with what you have. Even your friends. A friend is a friend, no matter what.

Friday, July 4, 2014

To See Is To Choose, To Choose Is To Feel

I don't know, buy this happened to me quite a lot

Lets say that you already knew me, inside out
You knew who I am, what I like, everything

But it turns out that I am not like that
What would you do?
You knew that I am a good and normal guy
But it turns out I am a weirdshow, a creep, and a bastard
What would you do?

Interesting right?
You see, there isn't enough room for me to say it
But the fact is, I'm not that "normal"
I realized the fact that I am too fucked up, I don't fit in anywhere
But when you're there

I finally have some place where I belong
You've made me this tame, this normal

If you see me day in and day out, I am that weird
I can be wild, mad and just hate everything
But in the same time, I can hold myself and lean back

Now let me get this straight
Is it worth it? When you finally know who I really am and decide it
Is it?