Wednesday, March 5, 2014

NGGA ENAK

Namanya juga hidup, ada enak ada juga ngga enaknya.
Life is not as simple as a blink
Decisions after decisions, threat after threat
And you will never knew the outcome and the odds

Ketika kita merugi, jangan munculkan sangsi dalam diri dan mengumpat dalam hati
Mungkin kita memang ditakdirkan untuk merugi oleh-Nya

We will never ever, ever, be the superior one all the time.
There is nothing absolute
Do you ever think that life is not as simple "yes" and "no"? Even those words are not easy to say


Remember this, when life, or someone, hands you a lemonade.
Make the best out of it, be happy with it.

Iya, hidup itu kadang ngga enak.
Tapi cukup berharga untuk disyukuri.

Tuesday, November 5, 2013

RANT

Lost
Losing

Whatever it is, I'm feeling it right now. That doesn't mean that you're mine, I'm just cant afford it.
Kehilangan sesuatu yang kita miliki kadang memang mengejutkan dan tidak bisa kita terima begitu saja. Apalagi kehilangan sesuatu yang spesial, sesuatu yang kamu tahu tidak akan muncul lagi dalam waktu dekat, atau bahkan tidak akan muncul lagi di kehidupanmu.

After that terrifying feeling, what would you do next? Apakah kamu akan membiarkan perasaan yang sangat mengganggu itu hinggap dan memberikan rasa yang semakin buruk? Atau kamu akan memastikan bahwa kamu tidak akan kehilangan sesuatu itu?

Semua hal ini bermuara pada satu hal, kesalahan.

Iya, mistakes after mistakes and sometimes you're not learning from it. Bukan berarti tidak ada introspeksi dan melihat kesalahan diri sendiri, field of experience memang tidak pernah bisa diukur. Dan kadang timbul satu pertanyaan "Apakah hal ini memang berulang? Atau aku yang terlalu bodoh untuk mengulangi kesalahan yang sama?". Mereka yang diluar sana seolah-olah berusaha meyakinkan kalau ada yang salah sepertinya, but is it? Kamu yakin ini bukan semata-mata mereka tidak senang dengan apa yang kamu jalani?

Kesalahan membuat semua orang belajar, tapi dengan cara yang berbeda. Sulit memang menemukan hal yang salah apabila kita yang melihat dari sudut pandang kita sendiri.

Ada satu kata dari temanku yang menurutku sangat tidak masuk akal: "Why her? Is it should be her? Ngga ada yang lain?".
Kenapa tidak masuk akal? Well letting people choose what they want is one form of respect. It is my choice, mereka ngga perlu tahu alasan spesifik kenapa aku memilih dia tapi dia adalah yang aku pilih. Iya, there is plenty fish on the sea, tapi apa nanti di pasar kamu mau beli semua ikan? Kamu pasti memilih yang kamu inginkan dan menolak yang lain kan? Lagipula, semua pilihan ada resikonya.

Resiko ya? Iya, sejak awal aku memilih dia memang ada resiko yang harus aku tanggung. Ngga perlu tau lah kalian, yang jelas aku bisa survive sampai sekarang itu karena aku percaya dengan apa yang aku pilih itu benar. Ragu? Jelas ada, tapi seiring dengan berjalannya waktu keraguan itu hilang dan berganti dengan kepastian.

Jadi? Masih tanya lagi kenapa aku memilih dia dengan segala kekurangannya dan resikonya?


Don't like it? Shut up and walk away please. It is my decision, I choose it.

Tuesday, September 3, 2013

THE TRUTH

"Sometimes, something empty is not because it meant to be occupied or filled. Sometimes it just meant to be empty"
Selalu ada sesuatu yang mengejutkan dibalik pertanyaan "What is going on?". Entah itu bikin shock secara permanen atau cuman sekedar "Ohh gitu..", tapi yaa yang jelas dari pertanyaan itu kadang muncul jawaban yang bikin shock.
Ada yang bilang kalo kebenaran itu datang pada saat yang ngga tepat, atau kebenaran itu datang dengan cara yang bermacam-macam, tapi ada satu yang sering banget gue alamin. Sometimes, the truth comes in a hard-yet-horrible way.
I mean, seriously, haruskah? Atau semua ini emang gue yang mau?

Bagi gue kejujuran itu mutlak wajib, toh nanti kita juga bakalan jujur-jujuran sama yang punya hidup kan. But sometimes I just dont get it when people are seems like holding the truth from another.
Alright, dalam beberapa situasi kejujuran itu ngga mutlak diperlukan, tapi apa iya itu excuse utamanya?

Sesuatu yang kita lihat itu belum tentu bener, skeptis kadang perlu, bukan untuk bersikap sinis dan mempertanyakan kejujuran atau tidak percaya, semata-mata untuk meyakinkan kalo yang bener itu ya bener.
Mempertanyakan boleh aja, asal siap sama jawabannya. Kalo ngga siap ya mending makan bubur dulu aja sana, daripada nanti sakit hati atau stress akut.. Bahaya.
Dan apa yang terlihat biasa saja bisa jadi terlihat luar biasa, apa bila ditanyakan. Begitu pula sebaliknya, sesuatu yang sebetulnya luar biasa juga bisa terlihat biasa atau bahkan ngga ada apa-apanya kalo kita ngga mau ngeliat dan bertanya.
Everything happens for a reason, kalo menurut gue ada benernya juga, hubungan sebab-akibat itu ya emang ada dan itu emang jadi penyebab suatu hal. Trees dont grow on its own and we aren't born from a can.
Tapi terkadang, "reason" itu ngga penting atau ngga perlu orang tau, which is fine karena manusia juga punya privasi yang ngga bisa diganggu gugat. Tapi kalo reason itu ngga ada, pertanyaan akan semakin banyak dan kompleks.

Yes, the truth may come in a good or bad way. The way it comes, we choose it and we must deal with it.

OPEN


Sebuah pintu, entah gue yang sotoy atau apapun, tapi gue beranggapan kalo pintu itu kayak portal. Portal?
Well, ya. Portal, gerbang, atau apapun itu yang bisa memberikan atau menghentikan kita untuk menuju suatu hal yang baru.
Pemikiran gue untuk postingan ini sederhana "Should we open the door, and going inside a whole new world and left our past behind?" Should we?

Sebuah lingkungan baru itu hal yang sedikit creepy bagi gue. Adaptasi itu memakan waktu dan waktu gue ngga cuman buat adaptasi doang, gue mau ngga mau harus punya waktu untuk hal-hal lain.
It's hard to move on when you have something you need. Kalo udah nyaman yaudah, menurut gue ngga ada yang perlu diubah-ubah lagi. Useless? Up to you to describe it.
Pintu itu menyimpan sesuatu yang misterius, kita ngga pernah tau ada apa dibalik pintu. A ghost, dinosaur, alien, or even a disaster mungkin hal yang ada dibalik pintu.
Supaya kita tau katanya sih kita harus berani memegang gagang pintu, dan mencoba membuka.

Setelah dibuka pun bukan selesai sampai situ aja, it's not opening it's looking. Ketika kita membuka, kita juga harus terbuka. Open our mind, our eyes, our sense, our heart, menurut gue sih itu yang dibutuhin abis buka "pintu" yang kita pilih.
Susah? Buat gue, iya. Mungkin bagi banyak orang bakalan keliatan cemen, tapi ya I can't lie to myself.
Gue bukan orang yang nyaman dengan lingkungan baru bahkan dengan orang baru pun gue butuh waktu yang lama untuk bisa "settle" dan nyaman. Konflik itu sesuatu yang nantinya akan gue bayar mahal, lebih mahal dari apapun.

Tapi bukan berarti dibalik pintu itu tidak ada sesuatu yang menyenangkan, kalau kita peka, kita bisa menemukan apa yang selama ini kita cari. Mungkin kebahagiaan yang selama ini kita ngga tau dimana, atau bahkan seseorang dari masa lalu yang dulu sempat membahagiakan kita dan kembali membahagiakan saat ini.
Sesuatu yang berharga memang ngga bisa diukur dengan alat ukur apapun, dan dibalik pintu itu mungkin kita bisa menemukan sesuatu yang berharga. Mungkin kita bisa explore bisnis baru yang lebih menguntungkan atau kita bertemu rekan bisnis yang lebih oke. Who knows.

So, buat kalian, untuk bisa membuka "pintu" dan masuk ke dunia baru itu bisa jadi sulit atau bisa semudah membuka pintu rumah. Is it?