Tuesday, September 3, 2013

THE TRUTH

"Sometimes, something empty is not because it meant to be occupied or filled. Sometimes it just meant to be empty"
Selalu ada sesuatu yang mengejutkan dibalik pertanyaan "What is going on?". Entah itu bikin shock secara permanen atau cuman sekedar "Ohh gitu..", tapi yaa yang jelas dari pertanyaan itu kadang muncul jawaban yang bikin shock.
Ada yang bilang kalo kebenaran itu datang pada saat yang ngga tepat, atau kebenaran itu datang dengan cara yang bermacam-macam, tapi ada satu yang sering banget gue alamin. Sometimes, the truth comes in a hard-yet-horrible way.
I mean, seriously, haruskah? Atau semua ini emang gue yang mau?

Bagi gue kejujuran itu mutlak wajib, toh nanti kita juga bakalan jujur-jujuran sama yang punya hidup kan. But sometimes I just dont get it when people are seems like holding the truth from another.
Alright, dalam beberapa situasi kejujuran itu ngga mutlak diperlukan, tapi apa iya itu excuse utamanya?

Sesuatu yang kita lihat itu belum tentu bener, skeptis kadang perlu, bukan untuk bersikap sinis dan mempertanyakan kejujuran atau tidak percaya, semata-mata untuk meyakinkan kalo yang bener itu ya bener.
Mempertanyakan boleh aja, asal siap sama jawabannya. Kalo ngga siap ya mending makan bubur dulu aja sana, daripada nanti sakit hati atau stress akut.. Bahaya.
Dan apa yang terlihat biasa saja bisa jadi terlihat luar biasa, apa bila ditanyakan. Begitu pula sebaliknya, sesuatu yang sebetulnya luar biasa juga bisa terlihat biasa atau bahkan ngga ada apa-apanya kalo kita ngga mau ngeliat dan bertanya.
Everything happens for a reason, kalo menurut gue ada benernya juga, hubungan sebab-akibat itu ya emang ada dan itu emang jadi penyebab suatu hal. Trees dont grow on its own and we aren't born from a can.
Tapi terkadang, "reason" itu ngga penting atau ngga perlu orang tau, which is fine karena manusia juga punya privasi yang ngga bisa diganggu gugat. Tapi kalo reason itu ngga ada, pertanyaan akan semakin banyak dan kompleks.

Yes, the truth may come in a good or bad way. The way it comes, we choose it and we must deal with it.

OPEN


Sebuah pintu, entah gue yang sotoy atau apapun, tapi gue beranggapan kalo pintu itu kayak portal. Portal?
Well, ya. Portal, gerbang, atau apapun itu yang bisa memberikan atau menghentikan kita untuk menuju suatu hal yang baru.
Pemikiran gue untuk postingan ini sederhana "Should we open the door, and going inside a whole new world and left our past behind?" Should we?

Sebuah lingkungan baru itu hal yang sedikit creepy bagi gue. Adaptasi itu memakan waktu dan waktu gue ngga cuman buat adaptasi doang, gue mau ngga mau harus punya waktu untuk hal-hal lain.
It's hard to move on when you have something you need. Kalo udah nyaman yaudah, menurut gue ngga ada yang perlu diubah-ubah lagi. Useless? Up to you to describe it.
Pintu itu menyimpan sesuatu yang misterius, kita ngga pernah tau ada apa dibalik pintu. A ghost, dinosaur, alien, or even a disaster mungkin hal yang ada dibalik pintu.
Supaya kita tau katanya sih kita harus berani memegang gagang pintu, dan mencoba membuka.

Setelah dibuka pun bukan selesai sampai situ aja, it's not opening it's looking. Ketika kita membuka, kita juga harus terbuka. Open our mind, our eyes, our sense, our heart, menurut gue sih itu yang dibutuhin abis buka "pintu" yang kita pilih.
Susah? Buat gue, iya. Mungkin bagi banyak orang bakalan keliatan cemen, tapi ya I can't lie to myself.
Gue bukan orang yang nyaman dengan lingkungan baru bahkan dengan orang baru pun gue butuh waktu yang lama untuk bisa "settle" dan nyaman. Konflik itu sesuatu yang nantinya akan gue bayar mahal, lebih mahal dari apapun.

Tapi bukan berarti dibalik pintu itu tidak ada sesuatu yang menyenangkan, kalau kita peka, kita bisa menemukan apa yang selama ini kita cari. Mungkin kebahagiaan yang selama ini kita ngga tau dimana, atau bahkan seseorang dari masa lalu yang dulu sempat membahagiakan kita dan kembali membahagiakan saat ini.
Sesuatu yang berharga memang ngga bisa diukur dengan alat ukur apapun, dan dibalik pintu itu mungkin kita bisa menemukan sesuatu yang berharga. Mungkin kita bisa explore bisnis baru yang lebih menguntungkan atau kita bertemu rekan bisnis yang lebih oke. Who knows.

So, buat kalian, untuk bisa membuka "pintu" dan masuk ke dunia baru itu bisa jadi sulit atau bisa semudah membuka pintu rumah. Is it?

Monday, July 15, 2013

KEDEWASAAN

Hmmmm..
Kedewasaan?
Menurut gue sih konsepsi kedewasaan itu masih rancu, ngga jelas.

Kalo menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia sih, "Kedewasaan" itu hal atau keadaan telah dewasa.
Mungkin ada yang menganggap kedewasaan itu datang ketika kita sudah memiliki hak untuk mendapatkan materi yang bisa dikonsumsi oleh orang dewasa, entah apapun itu.
Ada juga yang menganggap kedewasaan itu ketika kita tidak boleh atau bahkan malu utnuk menjadi childish.
Sekarang gue ngga mau ngebahas kedewasaan secara rumit sih, tapi mungkin ini adalah kedewasaan gue.. Well at least, dari sudut pandang gue sendiri.

Menurut gue kedewasaan itu sedikit kompleks, tapi berawal dari self-learning. Kita bisa belajar tentang kedewasaan dari manapun, mantan? Mungkin aja, yaaa selama itu bisa membentuk kepribadian kita jadi lebih baik.
Kedewasaan itu gue rasakan ketika gue tidak lagi egois dan mau menang sendiri, you know ketika kita lagi berdebat atau kita lagi mendengar atau melihat pendapat orang lain dan respect dengan hal itu. Well, itu menunjukkan sisi kedewasaan menurut gue.
Kedewasaan itu ketika gue udah bisa bijak dalam memilih, menyesal? Itu sih tanggung jawab pribadi, tinggal disikapi secara baik aja.
Menjadi dewasa itu ketika gue udah bisa mencari pemecahan sebuah masalah tanpa harus orang lain yang jawab, yaa minta pendapar boleh but once again, the answer is in your hand.
Menjadi dewasa menurut gue bukan berarti takut untuk bersikap childish, "boys will be boys" itu ngga ada salahnya kok. Gue bukan superhero, bahkan superhero aja suka becanda, tapi tetep tau situasi untuk jadi demikian.
Menjadi dewasa itu ketika gue udah cukup bermain, dan memilih untuk duduk di dalam sebuah ruangan yang nyaman. Bukan berarti kemudian membosankan, gue tetep bermain, tapi hasil main itu positif.
Menjadi dewasa menurut gue ketika gue udah bisa hadir sepenuhnya untuk orang lain, bukan berarti ngga peduli sama diri sendiri, yaaa itung-itung less-selfish lah.
Ngambek, marah, atau apapun itu ngga salah kok dilakukan ketika sudah dewasa. Asal, tahu alasannya apa dan sebelum kayak gitu, berfikir dulu.
Menjadi dewasa menurut gue itu ketika gue punya kebahagiaan, mau recall memori waktu kecil atau bikin memori baru bareng orang yang spesial. Ketika gue bahagia tanpa harus banyak menuntut, that's it.
Menurut gue, belajar jadi dewasa itu kita sendiri yang mulai, boleh aja sih nikmatin masa muda like having fun, party 24/7, or even just care for our own and don't want anyone by our side, tapi apa iya mau kayak gitu sampe tua?
Mawas diri juga menurut gue salah satu bagian dari menjadi dewasa, jangan takut buat bilang "Shit, I've had enough of this. I'm way to old for this shit", kata-kata kayak gitu malah menunjukkan kalo kita makin sadar akan kapasitas diri kita sendiri. It's good to be brave and have a lot of guts, but age and aging can't be stopped.
Baca komik, punya mainan, main video game, punya boneka, masih suka ke taman bermain, itu semua hal yang wajar dijalani oleh siapapun. Mau masih umur dua puluh sampe umur lima puluh, selama itu ngga mengganggu hidup dan bisa disikapi secara bijak. Menjadi dewasa itu ngga ada batasan.

Kadang kita dituntut untuk jadi dewasa. Orang tua, boss di kantor, temen sendiri, sahabat, bahkan pacar pun sering menyarankan dan meminta kita untuk setidaknya menjadi sedikit gentle, classy, calm, atau cool.
Boleh aja sih diturutin, tapi siapa kita itu kita yang tahu kan? Well kedewasaan itu relatif kok, ngga semua orang butuh banget hal itu.

Jadi, menurut gue menjadi dewasa itu bermula pada respect, way of thinking, dan juga attitude.
So.... Mungkin bisa ditanyakan kepada orang lain, boleh gebetan, pacar, ibu, bapak, kakak, temen, sahabat.. Apa kita sudah dewasa atau setidaknya, menjadi dewasa?

Friday, February 15, 2013

IT'S SO INDONESIAN.... WELL, I GUESS

Ada banyak hal yang bisa mencirikan kalau ini adalah budaya Indonesia.
Menurut gue ada banyak sih, salah satunya adalah cara berpesta.

Iya, berpesta. Tapi bukan pesta caligula yang ngga ada aturan dan bebas semaunya. Yang gue maksud pesta disini adalah kawinan, hajatan, atau momen lain yang melibatkan banyak orang di dalam satu tempat untuk bergaul bersama-sama.

Ada banyak hal yang bisa kita temui saat ada dalam pesta, yang identik dengan Indonesia.. Menurut gue sih gitu, mungkin kalian punya pendapat lain ya silahkan (please jangan makan roti coklat-keju gue)

Yang pertama adalah hiasan yang berbau kedaerahan, mungkin budaya ini lambat laun akan menghilang (entah kenapa gue yakin dengan hal ini). Tapi, sampe sekarang gue masih bisa liat hiasan-hiasan tersebut tersusun dengan apik di lokasi resepsi atau apalah itu namanya..


Yang kedua adalah, seserahan. Pengucapannya sih gitu, "se-serahan" tapi bukan acara bebas lepas freestyle kayak anak breakdance. Seserahan ini biasanya kayak bingkisan yang diserahkan oleh satu pihak ke pihak yang lain. Nah seserahan itu biasanya diserahin sebelum akad nikah atau ijab kabul (lagi-lagi ini sepengetahuan gue). Foto dibawah apaan? Seinget gue sih itu namanya "Mas Kawin", bukan.. Bukan mas-mas dibungkus di peti trus dikawinin sama kembang. Tapi semacam mahar sebagai simbolisasi. Entah simbolisasi apa, mungkin hanya pengantin dan Tuhan yang tahu..


Nah, selanjutnya ada sesi foto-foto. Gila, ibarat kata nih "kalo lu dateng kawinan, lu harus foto sama pengantinnya". Mungkin buat kalian yang mau belajar jadi model, bisa sih kayaknya praktek di acara kawinan. Kali aja gitu, ditawarin jadi model iklan tutup pentil ban motor.


Acara kawinan atau pesta itu identik dengan tata ruang yang megah, sangat "wah", dan bombastis (oke gue lebay). Nah di setiap acara pesta, biasanya kalian akan menemukan beberapa hal yang identik dengan pesta tersebut. Kayaknya sih biar gampang ngerti ini pesta apaan dan yang ngadain acara siapa, kan kalo salah tempat tinggal balik badan trus teriak "IT'S MORPHIN' TIME!!".


Kalo yang terakhir sih kayaknya ngga asing lah, di setiap acara pesta bisa dipastikan kalian akan menemukan banyak tumpukan gelas dan piring. Mau terbalik mau engga, mau isinya terpisah atau jadi satu, setiap kalian melihat ini kalian pasti susah fokus ke yang lain.


Well, itu aja sih kayaknya. Mungkin masih banyak yang khas dari Indonesia di dalam acara pesta yang belum bisa gue bagikan ke kalian. Mungkin kalian harus melihatnya dan merasakannya sendiri sehingga kalian bisa mengerti kalau inilah pesta rasa Indonesia.

See ya later fellas!

-Aldio Cahyo Senoaji-
(ALL photos were taken using Canon EOS 20D and Canon EOS 30D)

(Photograph By: Aldio Cahyo Senoaji. DO NOT COPY THESE MATERIALS IN THIS BLOG WITHOUT MY PERMISSION. Contact me: @Aldiocs)